Showing posts with label Teori Belajar. Show all posts
Showing posts with label Teori Belajar. Show all posts

PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME : Teori belajar konstruktivisme

Pembelajaran Konstruktivisme - Teori belajar konstruktivisme berasal dari aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah konstruksi (bentukan) sendiri. Pengetahuan merupakan hasil konstruksi setelah melakukan kegiatan. 

Pandangan konstruktivisme lahir dari gagasan Pieaget dan Vigotsky, yang beranggapan bahwa pengetahuan itu merupakan hasil konstruksi atau bentukan kognitif melalui kegiatan seseorang. Pendapat ini sesuai dengan pandangan Von Glasrfield Suparno (Ratno Harsono, 2007: 23) yang menyatakan bahwa pengetahuan itu dibentuk oleh struktur konsep seseorang sewaktu ia berinteraksi dengan lingkungannya.

Pembelajaran Konstruktivisme - Teori belajar konstruktivisme


Teori Konstruktivisme dalam perkembangannya memang banyak digunakan dalam pendidikan ataupun pendekatan-pendekatan pembelajaran. Konstruktivisme pada dasarnya adalah suatu pandangan yang didasarkan pada aktivitas siswa dengan untuk menciptakan, menginterpretasikan, dan mereorganisasikan pengetahuan dengan jalan individual Windschitl (Dadang Supardan, 2007: 5).

Pengertian Teori Konstruktivisme

Pengertian Teori belajar konstruktivisme menurut Anita Woolfolk (Benny A. Pribadi, 2009: 156) mengemukakan pendekatan konstruktivistik sebagai "...pembelajaran yang menekankan pada peran aktif siswa dalam membangun pemahaman dan memberi makna terhadap informasi dan peristiwa yang dialami".

Teori belajar konstruktivisme ini memandang bahwa pengetahuan itu ada dalam diri seseorang yang sedang mengetahui. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak guru ke kepala siswa. Siswa sendirilah yang harus mengartikan apa yang telah dipelajari atau diajarkan dengan menyesuaikan terhadap pengalaman-pengalamannya. Menurut Teori belajar konstruktivisme ini apa-apa yang diajarkan oleh guru tidak harus dipahami oleh siswa. Pemahaman siswa boleh berbeda dengan guru, sehingga dapat dikatakan bahwa yang berhak menentukan pengetahuan adalah individu itu sendiri, bukan orang lain, yaitu dengan melalui indera yang dimiliki, atau dari satu pengalaman pada pengalaman selanjutnya.

Teori belajar konstruktivisme ini juga berpendapat bahwa berpikir yang baik adalah lebih penting dari pada mempunyai jawaban yang benar, dengan berpikir yang baik maka seseorang dapat menyelesaikan suatu persoalan yang dihadapi. Adapun hakikat dari pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme yakni pembentukan pengetahuan yang memandang subyek aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Subyek menyusun pengertian realitasnya dengan bantuan struktur kognitif.. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi.

Teori belajar konstruktivisme menekankan bahwa dalam proses pembelajaran, si belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Siswa yang harus aktif mengembangkan pengetahuan, bukan pembelajar atau orang lain. Siswa yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu siswa untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa. Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide serta pengembangan konsep baru. Oleh karenanya aksentuasi dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada guru sebagai pendidik melainkan pada pebelajar.

Ciri-ciri Teori belajar konstruktivisme

Hamzah (Zakaria Effandi, 2007: 101) mengungkapkan ciri-ciri pembelajaran berdasarkan teori konstruktivistik adalah sebagai berikut: (1) tahap persepsi (mengungkap konsepsi awal dan membangkitkan motivasi belajar pelajar), (2) tahap eksplorasi, (3) tahap perbincangan dan penjelasan konsep, (4) tahap pengembangan dan aplikasi konsep.

Karakteristik pembelajaran adalah sebagai berikut: (1) membebaskan siswa dari belenggu kurikulum yang berisi fakta-fakta lepas berdasarkan ketetapan, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan ide-idenya secara lebih luas, (2) menempatkan siswa sebagai kekuatan timbulnya interes, untuk membuat hubungan diantara ide-ide atau gagasannya, memformulasikan kembali ide-ide tersebut, serta membuat kesimpulan-kesimpulan, (3) guru bersama-sama siswa mengkaji pesan-pesan penting bahwa dunia adalah kompleks, dimana terdapat bermacam-macam pandangan tentang kebenaran yang datangnya dari berbagai interpretasi, (4) guru mengakui bahwa proses belajar serta penilaiannya merupakan suatu usaha yang kompleks, sukar dipahami, tidak teratur, dan tidak mudah dikelola.

Tujuan dari pembelajaran melalui pendekatan Teori belajar konstruktivisme ini adalah menghasilkan manusia-manusia yang memiliki kepekaan (ketajaman baik dalam arti kemampuan berfikirnya), kemandirian (kemampuan menilai proses dan hasil berfikir sendiri), tanggung jawab terhadap resiko dalam mengambil keputusan, mengembangkan segenap aspek potensi melalui proses belajar yang terus menerus untuk menemukan diri sendiri yaitu suatu proses "Learn To Be" serta mampu melakukan kolaborasi dalam memecahkan masalah yang luas dan kompleks bagi kelestarian dan kejayaan bangsanya.

Tujuan pengajaran yang dilaksanakan di dalam kelas menurut Mager (Choirotun Nachlan, 2010: 17) adalah menitik beratkan pada perilaku siswa atau perbuatan (performance) sebagai suatu jenis out put yang terdapat pada siswa dan teramati serta menunjukkan bahwa siswa tersebut telah melaksanakan kegiatan belajar. Pengajar mengemban tugas utamanya adalah mendidik dan membimbing siswa-siswa untuk belajar serta mengembangkan dirinya. Guru diharapkan dapat membantu siswa dalam memberi pengalaman­pengalaman lain untuk membentuk kehidupan sebagai individu yang dapat hidup mandiri di tengah-tengah masyarakat modern.

Brooks (Choirotun Nachlan, 2010: 20) memberikan ciri-ciri guru yang mengajar dengan menggunakan pendekatan konstruktivistik. Adapun ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut: (1) guru adalah salah satu dari berbagai macam sumber belajar, bukan satusatunya sumber belajar, (2) guru membawa siswa masuk ke dalam pengalaman-pengalaman yang menentang konsepsi pengetahuan yang sudah ada dalam diri mereka, (3) guru membiarkan siswa berfikir setelah mereka disuguhi beragam pertanyaan-pertanyaan guru, (4) guru menggunakan teknik bertanya untuk memancing siswa berdiskusi satu sama lain, (5) guru menggunakan istilah-istilah kognitif seperti: klasifikasikan, analisis, dan ciptakanlah ketika merancang tugas-tugas, (6) guru membiarkan siswa bekerja secara otonom dan bersifat inisiatif sendiri, (7) guru menggunakan data mentah dan sumber primer bersama-sama dengan bahan-bahan pelajaran yang dimanipulasi, (8) guru tidak memisahkan antara tahap mengetahui proses menemukan, (9) guru mengusahakan agar siswa dapat mengkomunikasikan pemahaman mereka karena dengan begitu mereka benar-benar sudah belajar.

Ciri-ciri siswa dengan pendekatan konstruktivisme adalah siswa membangun pengetahuan dalam pikirannya sendiri. Guru membantu proses pembangunan pengetahuan agar siswa dapat memahami informasi dengan cepat. Guru menyadarkan kepada siswa bahwa mereka dapat membangun makna. Siswa berupaya memperoleh pemahaman yang tinggi dan guru membimbingnya. Adapun misi utama pendekatan konstruktivisme adalah membantu siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri melalui proses internalisasi, pembentukan kembali dan melakukan yang baru.

Prinsip Pendekatan Teori belajar konstruktivisme

Prinsip-prinsip dari pendekatan konstrutivistik menurut Jacqueline Grennon Brooks dan Martin G. Brooks (Dadang Supardan, 2007: 5) adalah sebagai berikut: (1) pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, (2) pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar, (3) murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah, (4) guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar, (5) menghadapi masalah yang relevan dengan siswa, (6) struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan, (7) mencari dan menilai pendapat siswa, (8) menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.

Gagnon dan Collay (Benny A.Pribadi, 2009: 163) mengemukakan sebuah desain sistem pembelajaran yang menggunakan pendekatan konstruktivistik. Desain yang dikemukakan terdiri atas beberapa komponen penting dalam pendekatan aliran konstruktivistik yaitu situasi, pengelompokan, pengaitan, pertanyaan, eksibisi, dan refleksi.

A. Situasi, komponen ini menggambarkan secara komperehensif tentang maksud atau tujuan dilaksanakannya aktivitas pembelajaran. Komponen situasi juga tergambar tugas-tugas yang perlu diselesaikan oleh siswa agar mereka memiliki makna dari pengalaman belajar yang telah dilalui.
Pengelompokan, komponen pengelompokan dalam aktivitas pembelajaran berbasis pendekatan konstruktivis memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan interaksi dengan sejawat. Pengelompokan sangat bergantung pada siatuasi atau pengalaman belajar yang ingin dilalui oleh siswa. Pengelompokan dapat dilakukan secara acak (random) atau didasarkan pada criteria tertentu (purposive).

2. Pengaitan, komponen pengaitan dilakukan untuk menghubungkan pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa dengan pengetahuan baru. Bentuk-bentuk kegiatan pengaitan sangat bervariasi, misalnya melalui pemecahan masalah atau melalui diskusi topik-topik yang spesifik.

3. Pertanyaan, pengajuan pertanyaan merupakan hal penting dalam aktivitas pembelajaran. Pertanyaan akan memunculkan gagasan asli yang merupakan inti dari pendekatan pembelajaran konstruktivistik. Munculnya gagasa-gagasan yang bersifat orisinal, siswa dapat membangun pengetahuan di dalam dirinya.

4. Eksibisi, komponen eksibisi dalam pembelajaran yang menggunakan pendekatan konstruktivistik memberi kesempatan kepada siswa untuk dapat menunjukkan hasil belajar setelah mengikuti suatu pengalaman belajar. Pengetahuan seperti apa yang telah dibangun oleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konstruktivistik? Pertanyaan seperti ini perlu dijawab untuk mengetahui hasil belajar siswa.

5. Refleksi, komponen ini pada dasarnya memberi kesempatan kepada guru dan siswa untuk berpikir kritis tentang pengalaman belajar yang telah mereka tempuh baik personal maupun kolektif. Refleksi juga memberi ksempatan kepada siswa untuk berpikir tentang aplikasi dari pengetahuan yang telah mereka miliki.

Demikianlah Pengertian Teori belajar konstruktivisme, semoga bermanfaat untuk anda.

Teori Belajar Behavioristik


Teori Belajar BehavioristikPandangan tentang belajar yaitu Belajar merupakan perubahan tingkah laku yang terjadi berdasarkan paradigma S-R (stimulus- respon).

Ciri-ciri teori belajar behavioristik :

a.     Mementingkan pengaruh lingkungan
b.     Mementingkan bagian-bagian ( elementalistik)
c.     Mementingkan peranan reaksi.
d.     Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar.
e.     Mementingkan sebab-sebab di waktu yang lalu,
f.      Mementingkan pembentukan kebiasaan, dan
g.     dalam pemecahan problem, ciri khasnya "trial and error".

 

Termasuk teori belajar behavioristik:


Teori belajar koneksionisme dengan tokoh Edward Lee Thorndike.
Teori belajar classical conditioning dengan tokoh Pavlov.
Teori belajar Descriptive behaviorism atau operant conditioning dengan tokoh Skinner.
 
1. Teori Belajar Koneksionisme

Belajar dapat terjadi dengan dibentuknya hubungan yang kuat antara stimulus dan respons. Agar tercapai hubungan antara stimulus dan respons, perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui percobaan-percobaan ( trials ) dan kegagalan-kegagalan   ( error) terlebih dahulu.
Hukum-hukum Belajar dari Thorndike

Ada tiga hukum dasar ( hukum primer) dan lima hukum tambahan. Adapun hukum dasar dari Thorndike adalah sebagai berikut :

1. Hukum Kesiapan (Law of Readiness)


  • Bila seseorang telah siap melakukan sesuatu tingkah laku, dan memberi kepuasan  baginya, maka ia tidak melakukan tingkah laku lain.
  • Bila seseorang sudah siap melakukan suatu tingkah laku, maka tidak dilakukannya tingkah laku itu akan menimbul kekecewaan.
  • Bila seseorang belum siap melakukan tingkah laku maka dilaksanakannya tingkah laku tersebut akan menimbulkan ketidak puasan.
  • Bila seseorang belum siap melakukan suatu tingkah laku maka tidak dilakukannya tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan.



2. Hukum latihan ( the law of exercise )

Prinsip utama belajar adalah ulangan. Makin sering suatu pelajaran diulangi, makin dikuasailah pelajaran tersebut, dan makin tidak pernah diulangi, pelajaran tersebut makin tidak dapat dikuasai. Terdiri dari :
A.   Hukum penggunaan ( "the law ofuse" )
Dengan latihan berulang-ulang maka hubungan stimulus dan respons makin kuat.
B. Hukum tidak ada penggunaan ( "the law of disuse" )
Bahwa hubungan antara stimulus dan respon melemah bila latihan dihentikan

3. Hukum akibat (the law of effect)
Hubungan stimulus respon diperkuat bila akibatnya memuaskan dan diperlemah bila akibatnya tidak memuaskan.

Lima Hukum Tambahan Thorndike
A.   Multiple Respons atau reaksi yang bervariasi. Melalui proses trial and error seseorang akan terus melakukan respons sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
B.   Set atau attitude, situasi di dalam diri individu yang menentukan apakah sesuatu itu menyenangkan atau tidak bagi individu tersebut. Proses belajar berlangsung dengan baik bila situasi menyenangkan dan terganggu bila situasi tidak menyenangkan.
C.   Prinsip aktivitas berat sebelah (partial activity/prepotency of elements) yaitu manusia memberikan respons hanya pada aspek tertentu. Dalam belajar harus diperhatikan lingkungan yang sangat komplek yang dapat memberi kesan berbeda untuk orang yang berbeda.
D.   Prinsip Response by analogy atau transfer of training.
Yaitu manusia merespon situasi yang belum pernah dialami melalui pemindahan ( transfer ) unsur-unsur yang telah mereka kenal kepada situasi baru. Dikenal dengan theory of identical elements yang menyatakan bahwa makin banyak unsur yang identik, maka proses transfer semakin mudah.
E.    Perpindahan asosiasi ( Associative Shifting ). Yaitu proses peralihan suatu situasi yang telah dikenal ke situasi yang belum dikenal secara bertahap, dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur-unsur ( elemen ) baru dan membuang unsur-unsur lama sedikit demi sedikit sekali sehingga unsur baru dapat dikenal dengan mudah oleh individu.

4. Revisi Hukum Belajar dari Thorndike
a.    Hukum latihan ditinggalkan, karena ditemukan bila pengulangan saja tidak cukup untuk memperkuat hubungan stimulus dengan respons.

b.    Hukum akibat (the law of effect) direvisi, ditemukan bahwa hadiah (reward) akan meningkatkan hubungan, tetapi hukuman (punisment) tidak mengakibatkan
efek apa-apa.
c.    Belongingness, yaitu terjadinya hubungan stimulus-respon bukannya kedekatan, tetapi adanya saling sesuai antara kedua hal tersebut. Situasi belajar akan
mempengaruhi hasil belajar.
d.   Spread of effect, yaitu bahwa akibat dari suatu perbuatan dapat menular.
 
5. Penerapan Teori Belajar Koneksionisme

 a.    Guru dalam proses pembelajaran harus tahu apa yang hendak diberikan kepada siswa.

b.   Dalam proses pembelajaran, tujuan yang akandicapai harus dirumuskan dengan jelas, masihdalam jangkauan kemampuan siswa.

c.    Motivasi dalam belajar tidak begitu penting, yanglebih penting ialah adanya respon-respons yangbenar terhadap stimuli.
d.    Ulangan yang teratur perlu sebagai umpan balikbagi guru, apakah proses pembelajaran sudahsesuai dengan tujuan yang ingin dicapai atau belum.
e.    Siswa yang sudah belajar dengan baik segeradiarahkan.
f.     Situasi belajar dibuat mirip dengan kehidupan nyata,sehingga terjadi transfer dari kelas ke lingkunganluar.
g.    Materi pembelajaran yang diberikan harus dapatditerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
h.   Tugas yang melebihi kemampuan peserta didiktidak akan meningkatkan kemampuan siswa dalammemecahkan permasalahannya.

II. Teori belajar classical conditioning

Eksperimen Pavlov dapat diterangkan berikut ini :

  • US   UR
  • CS1+ US1 UR1
  • CS2+ US2 UR2
  •  CS3+ US3 UR3
  • CS32+US32       UR32
  • CSn     CRn

Keterangan :
Ø US (unconditioned stimulus) : Stimulus tidak dikondisikan yaitu stimulus yang langsung menimbulkan respon, misalnya daging dapat merangsang anjing untuk mengeluarkan air liur.
Ø UR (unconditioned respons) : respon tak bersyarat, yaitu respon yang muncul dengan hadirnya US, misalnya air liur anjing keluar karena anjing melihat
Ø daging.
Ø CS (conditioning stimulus) : stimulus bersyarat, yaitu stimulus yang tidak dapat langsung menimbulkan respon, agar dapat menimbulkan respon perlu dipasangkan dengan US secara terus menerus agar menimbulkan respon. Misalnya Bunyi bel akan menyebabkan anjing mengeluarkan air liur jika selalu dipasangkan dengan daging.
Ø CR (conditioning respons) : respons bersyarat, , yaitu respon yang muncul dengan hadirnya CS. Misalnya : air liur anjing keluar karena anjing mendengar bel.
Ø Kemungkinan proses yang menyertai :
Ø Proses extinction yaitu proses hilangnya respons yang diharapkan. Terjadi apabila pemberian CS tanpa adanya US terus-menerus diberikan sehingga kadar CR makin menurun, dan dapat hilang sama sekali.
Ø Spontaneous recovery, yaitu CR yang hilang setelah extinction akan muncul kembali apabila US diberikan lagi.
Ø Asimtot kurve belajar, yaitu keadaan dimana pengulangan CS-US tidak menyebabkan penambahan kekuatan CR (Tingkat CR stabil).
Ø Generalisasi, yaitu kecenderungan organisme memberi respon tidak hanya pada stimulus yang dilatihkan, tetapi juga pada stimulus lain yang berhubungan, misalnya anjing yang dilatih untuk mengeluarkan air liur dengan cara mendengar nada tertentu, setelah berhasil dia juga mengeluarkan air liur kalau mendengarkan nada yang lebih tinggi atau lebih rendah.
Ø Diskriminasi yaitu keadaan organisme hanya memberi respon pada stimulus tertentu, sehingga tidak memberi respon pada stimulus yang lain, walaupun stimulus tersebut berhubungan dangan stimulus sebelumnya.
Ø Conditioning tingkat tinggi (higher order conditioning), yaitu conditioning yang sangat tinggi dimana CS dipasangkan dengan CS lain sudah menimbulkan respon yang diinginkan.

Penerapan teori conditioning dalam belajar

Kalau mata pelajaran termasuk CS, sikap guru termasuk US, dan respon siswa termasuk UR atau CR, maka akan terjadi hal sebagai berikut :
Ø Mata pelajaran Matematika ( CS ) + guru yang baik (US) — siswa mempunyai respon positif (UR), yang berarti siswa senang pada cara guru mengajar matematika dengan baik. Kalau hal ini dilakukan berkali-kali, maka akan terjadi : mata pelajaran Matematika (CS)        siswa mempunyai respon positif terhadap mata pelajaran Matematika (CR).
Ø Matematika (CS) + guru otoriter (US) — respons siswa negatif (UR). Kalau hal ini dilakukan berkali­kali, maka akan terjadi hal sebagai berikut : mata pelajaran matematika (CS) -< respons siswa terhadap mata pelajaran matematika negatif (CR).

Teori belajar operant conditioning (Skinner)

Ada dua macam respons, yaitu :
Respondent respons, yaitu respons yang ditimbulkan oleh perangsang tertentu. Respon ini timbul karena didahului perangsang tertentu (eleciting stimuli), menimbulkan respons secara relatif menetap. Misalnya makanan hanya dapat menyebabkan keluarnya air liur.
Operant respons atau instrumental respons. Perangsangnya disebut reinforcer yaitu respon yang timbul dan berkembang diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu. Respons ini memperkuat respons yang telah dilakukan oleh organisme.
Jadwal reinforcer Skinner
Continuous reinforcer ( CRF ), Dalam CRF, setiap respons ada reinforcer / reward.
Fixed interval reinforcer ( Fl)
Setiap interval waktu tertentu, secara fix diberi hadiah / reinforcer. Misalnya, setiap tiga menit, diberi hadiah, sehingga interval waktunya sebagai berikut : 3 menit — 6 menit — 9 menit — 12 menit dan seterusnya.
Fixed ratio reinforcer (FR), setiap perbandingan yang fix, diberi hadiah. Misalnya, setiap tiga kali tikus menekan tombol, diberi hadiah satu. Setiap enam kali tikus menekan tombol diberi hadiah dua kali lipat, setiap tikus menekan tombol sembilan kali, diberi hadiah tiga kali lipat, dan seterusnya.
Variabel interval reinforcer ( Vl ), pada Vl, tiap waktu bermacam-macam, diberi hadiah.
Variabel ratio reinforcer ( CR ), setiap berapa kali tidak tentu, diberi hadiah. Jadi kadang-kadnag diberi hadiah dan kadang-kadang tidak diberi hadiah dalam waktu yang tidak tentu.

Dari berbagai jadwal pemberian reinforcer ini, ternyata kecepatan berespons paling tinggi, ialah VR, kemudian FR, selanjutnya Vl, berikutnya Fl, dan yang paling tidak cepat ialah CRF.

b. Penerapan Teori Skinner dalam belajar
Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi penguat.
Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman. Untuk ini lingkungan perlu diubah, untuk menghindari adanya hukuman.
Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable rasio reinforcer.
Dalam pembelajaran, digunakan shaping.
 
3. Teori Belajar Humanistik
Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Tujuan utama para pendidik ialah :Membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri.

Tokoh penting teori belajar humanistik:
a.     Arthur Combs
b.     Abraham Maslow
c.     Carl Rogers.
a. Belajar menurut Arthur Combs
Bahwa dalam memahami perilaku orang kita harus mencoba memahami dunia persepsi orang tersebut. Perilaku buruk itu sesungguhnya tak lain hanyalah dari ketidakmauan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya.

b. Belajar Menurut Maslow
Asumsi dasar : bahwa manusia memiliki
Suatu usaha yang positif untuk berkembang.
Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu(Maslow,1968).
Hirarki Kebutuhan Maslow
Teori Belajar Behavioristik


c. Belajar Menurut Rogers


Yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu :
Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya
Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang yang bermakna bagi siswa.
Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses


Prinsip-prinsip Dasar Humanistik, Dalam buku Rogers "Freedom To Learn"


a.    Manusia itu mempunyai kemampuan belajar alami.
b.   Belajar yang signifikan terjadi apabila materipelajaran dirasakan murid empunyai relevansitujuan sendiri.
c.    Belajar menyangkut perubahan persepsi mengenaidiri sendiri dianggap mengancam dan cenderungditolak.
d.   Tugas belajar yang mengancam diri lebih mudahdirasakan dan diasimilasikan bila ancaman dari luaritu semakin kecil.
e.    Bila ancaman terhadap diri siswa rendah,pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai caradan terjadilah proses belajar.
f.     Belajar yang bermakna diperoleh siswa denganmelakukannya.
g.    Belajar diperlancar dengan melibatkan aktivitassiswa dan tanggung jawabnya.
h.    Belajar atas inisiatif siswa sendiri dan melibatkanpribadi siswa seutuhnya merupakan cara yangdapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
i.      Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan,kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswadibiasakan untuk mawas diri dan mengeritik dirinyasendiri.
j.      Belajar yang paling berguna secara sosial adalah belajar mengenai proses belajar.

Demikianlah  Teori Belajar Behavioristik, semoga bermanfaat.

PING | PING | PING